Minggu, 19 Mei 2019

Tentang Pilihan

Aku bukan pelukis yang mampu menutupi kekalutannya di atas sebuah kanvas
Aku bukan penari yang mampu menutupi kegelisahannya di atas panggung
Aku bukan pengajar yang mampu menahan amarah di depan kelas
Aku juga bukan seorang pramugari yang mampu tersenyum walau masalah datang silih berganti

Namun...
Antara aku dan mereka, kita sama-sama memiliki tujuan
Walau tujuan berbeda-beda, kita dipersatukan oleh tujuan itu sendiri
Keadaan sempat tidak bersahabat, namun perlahan malah sangat mendukung

Lalu, apa yang dipermasalahkan?

Aku tahu salah satu diantara mereka sedang berjuang untuk mencari ketenangan hati
Aku juga tahu salah satu diantara mereka sedang berjuang untuk mencari arti dalam sebuah kepalsuan
Dan aku juga tahu salah satu dari mereka sedang memantapkan pilihan yang terlanjur diambil
Dan aku juga tahu salah satu diantara mereka masih belum mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi

Itu bukan masalah
Aku percaya perlahan mereka akan segera menemukan jawabannya

Bagaimana jika keadaan kembali tidak mendukung?

Selesaikan segera, sebelum terlambat.

Cakrawala Buatan

Tak ayal aku menitipkan segala gundah
Menapaki jejak-jejak semu bersama bayangan kelam
Di sana aku terenyuh melihat seberkas cahaya
Hanya seberkas, tapi mampu menembus cakrawala buatanku
Aku sedikit menoleh, tak ingin berucap
Aku hanya ingin tahu, tidak lebih.

Kamis, 16 Mei 2019

Dear Arik...

Dear Arik,

Terima kasih untuk selalu mengingatkan aku di saat aku terlena dengan dunia ini.
Terima kasih udah mau menerima sifat aku yang masih kekanak-kanakan ini sebagai temen kamu.
Terima kasih untuk semua saran dan solusi yang udah kamu kasi ke aku sampai aku bisa jadi aku yang sekarang ini.
Terima kasih udah mau mengajariku tentang arti persahabatan yang singkat namun sangat bermakna.

Terima kasih udah mau menjadi tempat bersandarku di saat aku sedang kebingungan dan kehilangan arah.
Terima kasih untuk pelukan-pelukan hangatmu yg telah menyemangatiku agar aku mampu melewati hari demi hari kembali.
Terima kasih untuk bahumu yang rela terbasahi dengan air mata ketakutan dan keputusasaanku.

Arik...
Terima kasih udah mengajariku arti pertemuan dan perpisahan walau dengan makna tersirat.
Terima kasih udah mau mengukir kenangan indah selama kita masih sama-sama.
Terima kasih udah mau jadi bagian terpenting dalam hidupku.

Arik, terima kasih untuk semuanya.
Sampai ketemu di lain waktu.
Aku rindu...

Jumat, 18 Maret 2016

Bukan Makna Sebenarnya

Aku tak berhak berprasangka atas segalanya. Terserah, yang aku tahu hanya aku telah menelantarkan sebagian. Apa lagi yang ingin kau tuntut?

Sampai suatu saat jiwaku terhempas, bukan, maaf aku keliru. Maksudku, jiwaku dihempaskan dengan sengaja oleh diriku sendiri. Walau aku tak tahu tujuanku saat itu.

Saat aku sedang menuju kematian, saat itu juga aku melihatmu di ujung jalan sana. Seorang diri. Berlutut menghadap yang tak pasti. Aku ingin menghampiri. Tapi, yang kulakukan malah aku memilih pergi. Biarlah, aku sudah tak peduli. Setidaknya itu yang dikatakan otakku, bukan hati ini.

Saat aku sudah diambang kematian, aku menyadari satu hal. Bukan kapalnyalah yang ingin kau bangun terlebih dahulu, tetapi mercusuar. Semua sudah kau atur sedemikian rupa, meninggalkanku dengan segala penyesalan-penyesalanmu.

Dan, suatu saat kau akan mengerti tentang apa kisah ini kutulis...

Senin, 14 Maret 2016

Aku Selesai, Kawan

Aku selesai, kawan
Aku tak ingin lagi
Aku tak mampu
Berusaha pun aku, semua seakan sia-sia
Niatku sudah jelas dari awal
Aku tak ingin lagi

Aku selesai, kawan
Usahamu kan ku hargai
Nasihatmu kan ku kenang
Tapi aku tetap pada pilihanku
Aku tak ingin lagi

Aku selesai, kawan
Jika aku mulai menjauh darimu
Tolong ingatkan aku
Jika aku mulai merasa kalut
Tolong hibur aku
Jika pilihanku memang harus menyelesaikan semua ini
Tolong dukung aku

Jangan jauhi aku, kawan.

Selasa, 02 Februari 2016

Menikmati Penyesalan

Kuteringat beberapa bulan lalu. Di saat kita sama-sama sedang merencanakan sesuatu. Begitu menggebu-gebunya. Sampai orang disekitar merasa risih dengan kehadiran kita. Aku--salah satu otak dari rencana besar ini.

Apa yang kau tunggu?

Aku menunggu sesuatu.

Untuk apa?

Untuk dapat menghapus kesedihanku saat ini.

Boleh aku tau, sesuatu yg kau maksud apa?

Waktu. Aku menunggu waktu. Kata orang, waktu mampu menjawab semuanya dan menghapus kesedihan, juga kegelisahan hati.

Jika tidak?

Aku akan tetap menunggu.

Mengapa?

Karena orang yang bilang begitu ialah orang yang sangat kupercaya selama ini.

Jika ia berbohong?

Aku akan tetap percaya padanya.

Walau kau tau ia berbohong?

Iya.


Senin, 01 Februari 2016

Melangkah

Melangkahlah
Terserah, mau maju atau mundur
Terserah, mau ke tempat ramai atau sepi
Terserah, mau belok atau lurus
Terserah, mau lanjut atau balik lagi ke asal

Ketika aku menyadari bahwa aku tersesat, telah memilih arah yang salah, saat itu juga aku memutuskan untuk tetap pada arah itu. Walau aku tak tau ke mana arah itu akan membawaku.

Dan sampai pada akhirnya, ketika jalanku buntu, di mana aku benar-benar tak menemukan jalan lain lagi untuk melanjutkan perjalanan, aku dituntut untuk membuat pilihan, lagi.

Kembali menuju arah pulang, atau kembali menuju arah yang belum pernah ku lalui sebelumnya? Percayalah, kita tidak pernah salah dalam melangkah, hanya keliru. Dan kau akan mengetahui perbedaannya, segera.