Ketidaknyamanan itu muncul. Seiring berjalannya waktu, kepedulian mereka hilang. Ia sendirian. Menanggung beban yang berasal dari mereka pun, sendirian.
Sempat ia berpikir untuk mengacuhkan segala yang menjadi tanggung jawabnya, tapi ia urungkan niat itu. Ia masih memikirkan risiko kedepan. Ia takut akan risiko. Karena itulah hidupnya selalu datar. Ia tidak nyaman akan semua keterpaksaan ini.
Di satu sisi, mereka tidak berhak mengatur hidupnya. Karena mereka, ruang geraknya terbatas. Ia stuck di tempat yang bukan lagi tempatnya yang sesungguhnya.
Kadang, keinginan untuk memberontak itu muncul, tetapi teringat akan kodratnya sebagai perempuan, ia enggan melakukannya.
Ia hanya bisa memendam, menahan amarah, dan bersikap layaknya ia tak mengapa.
Kadang ia berpikir kapan semua ini akan berakhir.
3? 4? Atau 5 tahun lagi kah?
Sungguh, ia tak sanggup. Lebih baik ia mundur daripada terus menderita. Mundur bukan berarti ia menyerah, ia hanya ingin kembali menikmati kehidupannya yang sesungguhnya. Sudah lama ia tak merasakannya.
Ia rindu akan hal itu.
(PS: bacanya jgn serius kali. Ecek-eceknya ini.)