Aku tak berhak berprasangka atas segalanya. Terserah, yang aku tahu hanya aku telah menelantarkan sebagian. Apa lagi yang ingin kau tuntut?
Sampai suatu saat jiwaku terhempas, bukan, maaf aku keliru. Maksudku, jiwaku dihempaskan dengan sengaja oleh diriku sendiri. Walau aku tak tahu tujuanku saat itu.
Saat aku sedang menuju kematian, saat itu juga aku melihatmu di ujung jalan sana. Seorang diri. Berlutut menghadap yang tak pasti. Aku ingin menghampiri. Tapi, yang kulakukan malah aku memilih pergi. Biarlah, aku sudah tak peduli. Setidaknya itu yang dikatakan otakku, bukan hati ini.
Saat aku sudah diambang kematian, aku menyadari satu hal. Bukan kapalnyalah yang ingin kau bangun terlebih dahulu, tetapi mercusuar. Semua sudah kau atur sedemikian rupa, meninggalkanku dengan segala penyesalan-penyesalanmu.
Dan, suatu saat kau akan mengerti tentang apa kisah ini kutulis...