Senin, 25 Agustus 2014

Your Always-Be-There-Friend

Pernah gak kamu ngerasa deket banget sama teman sampe-sampe seluruh masalah yang kamu punya, kamu ceritain ke dia? Pasti pernah.

Nah, seiring berjalannya waktu, kita juga akan meninggalkan atau ditinggalkan oleh mereka. Seperti misalnya, kamu dituntut orangtua untuk pindah sekolah karena tuntutan pekerjaan orangtua kita juga. Nah, disitulah muncul permasalahannya. Kita akan terpaksa meninggalkan teman kita saat itu juga.

Seminggu berlalu, kita masih keep in touch satu sama lain. Masih bisa ketawa-ketiwi bersama, masih bisa curhat-curhatan gak jelas, gila-gilaan bareng walau hanya via telepon.

Sebulan berlalu, kita semakin jarang teleponan karena kesibukan masing-masing. Tapi kita masih bisa chatting via Facebook, itupun hanya di malam hari saat kita sama-sama sedang tidak disibukkan dengan tugas ini itu.

Sayangnya, setahun lebih telah berlalu. Kita gak pernah lagi komunikasian. Bahkan sekedar nanyain kabar-pun, nggak. Kamu punya teman baru, dan begitu juga dengan aku. Kita udah punya dunia masing-masing.

Ada saat dimana aku berniat ingin menanyakan kabar kamu gimana, tapi aku urungkan niat itu. Karena alasan seperti, gak usahlah takut ganggu, gaklah mungkin dia lagi sibuk, nggaklah mungkin dia udah lupa sama aku.

Mungkin kamu juga merasakan hal yang sama.

Akhirnya, aku memutuskan untuk menanyakan kabar kamu, via chatting. Tapi sayangnya, semuanya berubah. Kita yang sekarang bukan lagi kita yang dulu.

Dingin.
Kikuk.
Garing.

Itulah kita yang sekarang. Kita seperti orang asing. Aku gak kenal kamu, kamu juga gak lagi kenal aku.

We used to laugh and do silly things together. We were so close. But now, we do not know each other anymore. We're like strangers.

You know, I laugh and smile everytime I re-read our conversations in other social media. I miss the old you. No, I mean, I miss the time when we were still together.

I just want to thank you for accepting me as your...friend? I hope you will always remember me.

Sincerely,
Your always-be-there-friend.

Kamis, 07 Agustus 2014

Semester 1 & 2

Hai.
What's up?
Tiba-tiba aku lagi pengen nulis nih tapi gak tau mau bahas apa.
Hmmmmmm apa yaaaa.....?

Anyway, aku kan beberapa bulan lalu ada janji ya mau ngelanjutin postingan Part 2-nya pengalaman Red Tour itu kan? Nah, berhubung waktunya kurang tepat, jadi di pending ajalah ya sampe waktu yang blm ditentukan. Hehe.

Balik lagi, aku mau bahas apa ya...
Oh iya, ini aja, berhubung sebentar lagi aku dan teman-teman akan memasuki semester 3, jadi aku mau bahas tentang pengalaman yang udah aku jalani selama setahun atau 2 semester lalu. Flashback nih ceritanya.

----------------

Semester 1.

Ini adalah waktu dimana aku mencoba untuk mau gak mau harus beradaptasi dengan lingkungan baru, namanya lingkungan kampus.

Sempat aku berpikir kalo kuliah akan jauh lebih enak-santai-happy-tenang dibanding saat kita masih SMA dulu. Ternyata oh ternyata, kuliah ini gak kayak FTV di esceteve itu, jauh dari keempat sifat tadi. Apalagi kalo ngejalaninnya gak sesuai sama keinginan hati. Kitapun ngerjainnya semua serba terpaksa.

Setelah beberapa bulan menjalani semester 1, rasa tertekan didalam diri aku pun muncul. Aku bosan. Aku capek. Aku merasa seperti berada didalam lingkaran hitam, gelap, dan sempit. Ini bukan "tempatku" yang sebenarnya. Aku ingin keluar dari "tempat" ini segera. Tapi kemana? Gak ada yang tau, bahkan aku sendiripun gak tau harus "pindah" kemana.

Pernah, karena terlalu berat memikul beban ini sendiri (ceilah), aku akhirnya berbagi ceritalah ke Yara, saking seriusnya cerita ni ya, tanpa disadari air mata ini tak dapat tertahankan lagi. Banjirlah saat itu juga. Kalo gak salah sih, dulu Yara ada ngasih masukan/saran gitu sih, tapi isinya apa-pun aku gak inget. Maklum, Cancer pelupa. Tapi ajaibnya, setelah mendengar rentetan perkataan dari Yara, saya jadi semangat lagi. Ntah mantra apa yang diucapkan dia pas lg telfonan itu. Ntahlah, hanya dia dan Allah yang tau.

Oke, serius kita lagi ya.

Masa-masa indah pas ngelab itu waktu kelompok aku kena inhallen. Jadi waktu itu lagi praktikum KimDas, ada disuruh bikin Reaksi Percobaan, nah kelompok kami gak tau kalo ada reaksinya, jadi gak terbikinlah sama kami. Si aslab nanya:

"ini mana reaksi percobaannya?"

Kamipun diam seribu bahasa.

"Yaudah, kalian pulang."

JENGJEEEEEEEEEENG!!!

Nah setelah keluar dari lab, muka kami pucat semua, mulailah saling menyalahkan satu sama lain. Endingnya so sweet bingit, ada tangisan kebahagian dari kami karena udh dikasi semangat gitu sama kak Sarah. :3

Trus, pas di lab lagi nih, gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba Putri merepeeeet aja kerjanya. Kamipun bingung. Jadi si Agil lah yg kenak sama Putri, agak-agak dimarahin gitu. Trus si Agil bisik-bisik ke aku "si Putri tu marah-marah aja kerjanya. Pening aku." Hahahahahahahahahaha. Duh, kangen Agil. :')

Jadi, buat kalian yang selama ngelab gak pernah dipulangin, artinya kalian blm merasakan gimana GREGETnya lab itu. Belum merasakan asam manis kehidupan di lab. Hiiiiiii, nyesel ya? Cie.

Jadi, di semester 1 ini intinya mungkin sifat SMA kami masih kebawa-bawa, masih suka main-main, gak serius dlm belajar, dll lah.

----------------

Semester 2.

Nah, di semester ini beda lagi. Di minggu-minggu pertama kuliah, bangku masih penuh tuh, eeeeeh pas di pertengahan sampe akhir jadi lebih banyak bangku kosong drpd yang terisi. Teman-teman yang dulu semangat-semangatnya masuk kampus, sekarang jadi makin semangat lagi stay di kost mereka. Peninglah.

Dan parahnya lagi, itu terjadi sama aku juga. Sejak semester 2, aku jarang masuk kuliah yang jam pertama. Kalo ada satu hari yang cuma diisi dengan satu mata kuliah aja, dengan bahagianya aku menambah hari liburku sendiri. Mungkin karena di Fisika ini kami udah satu rasa, satu hati, dan satu jiwa, jadi satu bolos semuapun ikut bolos. Hanya orang-orang beriman aja yg masih bisa bertahan (bc: gak pernah bolos) di semester 2, seperti Yara contohnya. *standing applause*

Mungkin, sebagian dr mereka yang bolos itu, mereka lebih milih belajar buat mempersiapkan sbmptn lagi dirumah/kost nya. Iya, ada bbrp dr tmn2 aku ini yg mau ngulang SBMPTN lagi.

Oh iya, ngomongin soal pertemanan di kampus, ada yg bilang gini:

"aku cik, kalo bukan karena kawan-kawan, udah keluar aku dari Fisika ini. Kawan-kawanlah yang buat aku mau bertahan disini." -Zega.

Ada benernya juga yg dibilangnya ya. Kalo mata kuliah aja udah seberat ini di kampus, trus hubungan pertemanannya kayak anak Ekonomi, stress jugak awak lama-lama di kampus ini.

Allah Maha Adil. Allah gak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuan kita. Kita boleh aja "tersiksa" sama tugas-tugas, jurnal, lab, dll, tapi selama kawan-kawan masih selalu peduli satu sama lain, kayaknya semua akan berakhir dengan indah. Cie. :'''''')

Jadi, itu aja sih pengalaman aku selama satu tahun terakhir di kampus. Sampai jumpa dipostingan berikutnya.

Bye.

Jumat, 01 Agustus 2014

#TeoriAdinda: Cinta Pandangan Pertama?

Percayakah kalian dengan cinta pandangan pertama, atau biasa orang batak bilang, love at the first sight?

Saya tidak. Kenapa?

Karena menurut saya, saat kalian bertemu dengan orang asing untuk pertama kalinya, dan tiba-tiba ada rasa yang tak biasa, itu bukan rasa cinta, melainkan rasa kagum. Ya, kalian mengagumi orang asing tersebut sebelum kalian mencintainya.

Nah, biasanya ending dari kagum pada pandangan pertama itu ialah kalian bisa menjadi kekasih dari orang asing tersebut atau mungkin malah menjadi secret admirer-nya. Dan biasanya para secret admirer ini sering menyesal dikemudian hari, lho. Hiii.

Jadi, kesimpulan dari #TeoriAdinda diatas adalah... silahkan simpulkan sendiri!

Bye! ✌