Pernah gak kamu ngerasa deket banget sama teman sampe-sampe seluruh masalah yang kamu punya, kamu ceritain ke dia? Pasti pernah.
Nah, seiring berjalannya waktu, kita juga akan meninggalkan atau ditinggalkan oleh mereka. Seperti misalnya, kamu dituntut orangtua untuk pindah sekolah karena tuntutan pekerjaan orangtua kita juga. Nah, disitulah muncul permasalahannya. Kita akan terpaksa meninggalkan teman kita saat itu juga.
Seminggu berlalu, kita masih keep in touch satu sama lain. Masih bisa ketawa-ketiwi bersama, masih bisa curhat-curhatan gak jelas, gila-gilaan bareng walau hanya via telepon.
Sebulan berlalu, kita semakin jarang teleponan karena kesibukan masing-masing. Tapi kita masih bisa chatting via Facebook, itupun hanya di malam hari saat kita sama-sama sedang tidak disibukkan dengan tugas ini itu.
Sayangnya, setahun lebih telah berlalu. Kita gak pernah lagi komunikasian. Bahkan sekedar nanyain kabar-pun, nggak. Kamu punya teman baru, dan begitu juga dengan aku. Kita udah punya dunia masing-masing.
Ada saat dimana aku berniat ingin menanyakan kabar kamu gimana, tapi aku urungkan niat itu. Karena alasan seperti, gak usahlah takut ganggu, gaklah mungkin dia lagi sibuk, nggaklah mungkin dia udah lupa sama aku.
Mungkin kamu juga merasakan hal yang sama.
Akhirnya, aku memutuskan untuk menanyakan kabar kamu, via chatting. Tapi sayangnya, semuanya berubah. Kita yang sekarang bukan lagi kita yang dulu.
Dingin.
Kikuk.
Garing.
Itulah kita yang sekarang. Kita seperti orang asing. Aku gak kenal kamu, kamu juga gak lagi kenal aku.
We used to laugh and do silly things together. We were so close. But now, we do not know each other anymore. We're like strangers.
You know, I laugh and smile everytime I re-read our conversations in other social media. I miss the old you. No, I mean, I miss the time when we were still together.
I just want to thank you for accepting me as your...friend? I hope you will always remember me.
Sincerely,
Your always-be-there-friend.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar